Posted on Leave a comment

Bolehkah bermakmum kepada imam yang sholat sunnah? Bagaimana seharusnya Ketika Tertinggal Shalat Tarawih?

==> *Belajar bersama == Fenomena yang sering terjadi pada bulan Ramadhan khususnya untuk makmum yang ketinggalan berjamaah sholat Wajib Isya’ mungkin ada udzur karena kesibukan medis menjaga orang sakit dll, sehingga harus bermakmum pada imam sholat Tarawih*
 
Assalamu alaikum wr.wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, saya ingin bertanya. Apa yang kita lakukan jika saat kita shalat sunnah tiba-tiba ada orang yang menjadikan kita imam untuk shalat wajib? Terima kasih. Assalamu alaikum wr.wb. (Hamba Allah)
 
Jawaban
Wa’alaikum salam wr.wb.
Saudara penanya yang budiman, semoga Allah SWT menambahkan pemahaman dan amaliah agama yang baik kepada kita semua.
 
Dalam masalah ini ada beberapa hal yang penting diperhatikan. Pertama, kita memantapkan diri bahwa shalat demikian sah, sehingga tidak perlu memberitahukan kepadanya perihal shalat kita.
 
Ini mengikuti Mazhab Syafiiyah yang membolehkan kita melaksanakan shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang shalat sunnah. Demikian sebaliknya, orang yang shalat fardhu tertentu juga sah untuk bermakmum kepada orang yang shalat fardhu lainnya (seperti orang shalat zuhur kepada orang shalat ashar). Imam As-Syirazi dalam Kitabnya Al-Muhadzdzab menerangkan sebagai berikut:
 
وَيَجُوْزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْمُفْتَرِضُ بِالْمُتَنَفِّلِ، وَالْمُفْتَرِضُ بِمُفْتَرِضٍ فِيْ صَلَاةٍ أُخْرَى؛} لِمَا رَوَى جَابِرُ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّيْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ اَلْعِشَاءَ الْأَخِرَةَ ثُمَّ يَأْتِيْ قَوْمَهُ فِيْ بَنِيْ سَلِمَةَ فَيُصَلِّيْ بِهِمْ هِيَ لَهُ تَطَوُّعٌ وَلَهُمْ فَرِيْضَةُ الْعِشَاءِ {وَلِأَنَّ اْلِاقْتِدَاءَ يَقَعُ فِي الْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ، وَذَلِكَ يَكُوْنُ مَعَ اخْتِلَافِ النِّيَّةِ…
 
Artinya, “Boleh seorang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, dan orang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat fardhu dalam shalat yang lain berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA bahwa Mu’adz RA melakukan shalat Isya’ di waktu akhir bersama Rasulullah SAW, kemudian ia mendatangi kaumnya di Bani Salimah lantas menjadi imam shalat bersama mereka, shalat itu baginya (hukumnya) merupakan shalat sunnah, sementara bagi mereka merupakan shalat Isya’ fardhu; di samping itu karena bermakmum tersebut terjadi dalam perbuatan-perbuatan yang zahir, padahal perkara itu berbeda niatnya… (Lihat Imam As-Syirazi, Al-Muhadzdzab dalam An-Nawawi, Al-Majmu’, [Jeddah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 167).
 
Kedua, niat imamah, yakni niat menjadi imam dalam shalat ini agar mendapatkan fadhilah shalat jamaah. Niat imamah dalam shalat berjamaah hukumnya sunnah, kecuali dalam shalat Jumat hukumnya wajib.
 
يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يَنْوِيَ الْإِمَامَةَ فَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَصَلَاةُ الْمَأْمُومِينَ وَالصَّوَابُ : أَنَّ نِيَّةَ الْإِمَامَةِ لَا تَجِبُ، وَلَا تُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الِاقْتِدَاءِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيْرُ أَصْحَابِنَا، وَسَوَاءٌ اقْتَدَى بِهِ رِجَالٌ أَمْ نِسَاءٌ ، لَكِنْ يَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ لِلْمَأْمُوْمَيْنِ، وَفِيْ حُصُوْلِهَا لِلْإِمَامِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ
 
Artinya, “Seyogianya imam niat menjadi imam, jika ia tidak niat menjadi imam, maka sah shalatnya dan shalatnya makmum. Yang benar adalah bahwa niat imamah tidaklah wajib, dan niat imamah tidaklah disyaratkan untuk keabsahan bermakmum, pendapat ini telah ditetapkan oleh Jumhur madzhab Syafiiyah, tidak disyaratkan niat imamah tersebut, baik makmumnya para pria, maupun makmumnya para wanita, meskipun demikian mereka tetap mendapatkan fadhilah berjamaah. Tetapi mengenai imam mendapatkan fadhilah jamaahnya atau tidak, ada tiga pendapat, (tidak mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah jika tahu dan lalu pasang niat imamah), (Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ [Jedah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 98).
 
Ketiga, bacaan shalatnya. Perhatikan ketentuan mengenai bacaan surat Al-Fatihah dan surat setelahnya dibaca jahar (keras, nyaring) atau sirr (tidak keras, tidak nyaring), sebagai berikut:
 
وَأَمَّا نَوَافِلُ النَّهَارِ فَيُسَنُّ فِيْهَا الْإِسْرَارُ بِلَا خِلَافٍ، وَأَمَّا نَوَافِلُ اللَّيْلِ غَيْرَ التَّرَاوِيْحِ فَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ: يُجْهَرُ فِيْهَا، وَقَالَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ وَصَاحِبُ التَّهْذِيْبِ: يُتَوَسَّطُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْإِسْرَارِ، وَأَمَّا السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ مَعَ الْفَرَائِضِ : فَيُسَرُّ بِهَا كُلِّهَا بِاتِّفَاقِ أَصْحَابِنَا . وَنَقَلَ الْقَاضِيْ عِيَاضٌ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ الْجَهْرَ فِي سُنَّةِ الصُّبْحِ، وَعَنِ الْجُمْهُوْرِ الْإِسْرَارَ كَمَذْهَبِنَا
 
Artinya, “Adapun dalam shalat sunnah siang hari, maka disunnahkan dibaca sirr tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Adapun shalat sunnah malam hari selain shalat Tarawih, maka penulis kitab at-Tatimmah mengatakan: dibaca jahar (keras, nyaring); tetapi Al-Qadhi Husain dan penulis Kitab At-Tahdzib berkata bahwa bacaan dilakukan secara sedang antara jahar (keras, nyaring) dan sirr (tidak keras, tidak nyaring). Sementara shalat-shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu: maka dilakukan dengan bacaan sirr, berdasarkan kesepakatan para kolega kami (madzhab Syafiiyah). Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Syarah Shahih Muslim mengutip pendapat sebagian ulama salaf mengenai menjaharkan bacaan dalam shalat sunnah rawatib subuh, dan pendapat mayoritas ulama bahwa bacaan dalam shalat sunnah subuh tetap sirr (tidak nyaring), sama seperti pendapat madzhab kami (Syafiiyah),” (Lihat An-Nawawi, al-Majmu’, [Jedah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 357).
 
Demikian penjelasan singkat ini, semoga keterangan ini bisa dipahami dengan baik. Kami terbuka menerima masukan dari pembaca yang budiman.
 
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
 
** Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/93060/cara-orang-shalat-wajib-bermakmum-kepada-orang-yang-shalat-sunnah
 
==>>Fatwa Ulama: Ketika Tertinggal Shalat Tarawih
 
Beberapa orang memiliki kesibukan yang terkadang tidak bisa ditinggal, misalnya tenaga medis yang harus menjaga orang sakit, tenaga keamanan dan pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggal. Terkadang mereka terlambat shalat isya, kemudian datang ke masjid dan mendapati imam sedang shalat tarawih. Apa yang harus dilakukan oleh orang ini? Berikut sedikit pembahasannya.
Jika tertinggal shalat tarawih dan belum shalat isya
 
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata, “Jika engkau tertinggal shalat isya, ketika engkau datang imam sedang shalat tarawih maka hendaknya engkau ikut shalat bersama imam dengan niat shalat isya. Jika imam telah salam (selesai shalat) engkau sempurnakan shalat isya (misalnya anda dapat shalat dua rakaat besama imam, maka anda tidak ikut salam bersama imam, bangkit dan sempurnakan dua rakaat lagi sendiri untuk menyelesaikan shalat isya, jika sudah anda bergabung lagi untuk shalat tarawih bersama imam, pent).
 
Janganlah engkau shalat (isya’) sendiri dan jangan dengan jama’ah yang lain agar tidak didirikan dua jamaah shalat dalam satu waktu. Karena bisa membuat was-was dan campur aduknya suara.
Jika tertinggal shalat tarawih
 
Misalnya ketika datang imam sudah shalat tawarih satu atau dua rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “jika saya menghadiri shalat tarawih bersama jamaah kemudian saya tertinggal (beberapa rakaat), apakah saya meng-qadha shalat yang tertinggal setelah witir atau apa yang harus saya lakukan?”
 
Beliau menjawab: “Hendaknya jangan engkau qadha shalat tarawih yang tertinggal setelah witir. Jika engkau ingin mengqadha shalat yang tertinggal, maka genapkanlah rakaat shalat witir bersama imam (maksudnya, ketika imam salam shalat witir anda niat shalat tarawih bangkit dengan rakaat genap, pent). Lalu setelah itu engkau lanjutkan lagi menyempurnakan shalat tawarih yang tertinggal, kemudian baru shalat witir.
 
Ini adalah pemasalahan yang aku ingatkan: jika engkau datang dan imam sedang shalat tarawih sedangkan engkau belum shalat isya’, apa yang harus dilakukan? Apakah shalat isya’ sendiri atau ikut shalat bersama imam dengan niat isya’?
 
Jawabnya, ikutlah bersama imam shalat tarawih dengan niat shalat Isya. Jika imam telah salam shalat tarawih (setelah 2 rakaat) maka engkau bangkit (tidak salam) dan sempurnakan sisa rakaat shalat isya. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan hal ini dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat ini. Ini adalah pendapat yang rajih. Yaitu boleh menjadi makmum berniat shalat wajib sedangkan imam berniat shalat sunnah. Dengan dalil bahwa Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu shalat isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia balik ke kampungnya untuk menjadi imam shalat isya. Maka ia mendapat pahala sunnah sedangkan kaumnya shalat wajib” (Liqa Asy Syahri)
 
Lebih baik jika meng-qadha shalat dengan cara berjamaah jika mudah. Misalnya shalat dengan istri di rumah. Wallahu a’lam” [selesai perkataan Syaikh Al Munajjid]
 
Demikian semoga bermanfaat.
 
Sumber: https://muslim.or.id/22035-fatwa-ulama-ketika-tertinggal-shalat-tarawih.html dan http://islamqa.info/ar/ref/93747
Posted on Leave a comment

Keutamaan Dan Keberkahan Hari Senin Dan Kamis

Keutamaan Dan Keberkahan Hari Senin Dan Kamis

KEUTAMAAN DAN KEBERKAHAN HARI SENIN DAN KAMIS

Oleh
Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i

Di antara keutamaan dan keberkahannya, bahwa pintu-pintu Surga dibuka pada dua hari tersebut, yaitu Senin dan Kamis. Pada saat inilah orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan. Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.”

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. [1] Lalu dikatakan, ‘Tundalah [2] pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” [3]

Keutamaan dan keberkahan berikutnya, bahwa amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

“تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ.”

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan…” [Al-Hadits] [4]

Karena itu, selayaknya bagi seorang Muslim untuk menjauhkan diri dari memusuhi saudaranya sesama Muslim, atau memutuskan hubungan dengannya, ataupun tidak memperdulikannya dan sifat-sifat tercela lainnya, sehingga kebaikan yang besar dari Allah Ta’ala ini tidak luput darinya.

2. Keutamaan hari Senin dan Kamis yang lainnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias berpuasa pada kedua hari ini.
Sebagaimana yang terdapat dalam sebagian kitab hadits dari ‘Aisyah Rahiyallahu anhuma, ia mengatakan,

“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.”

”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis ”.[5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,

“تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.”

“Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya] [6]

Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ.”

“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya al-Qur-an kepadaku pada hari tersebut.” [7]

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Dan tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” [8]

Berdasarkan argumentasi dari hadits-hadits ini, maka disunnahkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada dua hari ini, sebagai puasa tathawwu’ (sunnah).

3. Keutamaan lain yang dimiliki hari Kamis, bahwa kebanyakan perjalanan (safar) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada hari Kamis ini.
Beliau menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis. Sebagaimana tercantum dalam Shahih al-Bukhari bahwa Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan:

“لَقَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِي سَفَرٍ إِلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.”

“Sangat jarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (untuk melakukan perjalanan) kecuali pada hari Kamis.”
Dalam riwayat lain yang juga dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu:

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ فِي غَزْوَةِ تَبُوْكَ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.”

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Kamis di peperangan Tabuk, dan (memang) beliau suka keluar (untuk melakukan perjalanan) pada hari Kamis.” [9] [Disalin dari buku At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, Judul dalam Bahasa Indonesia Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Penulis Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] _______
Footnote
[1]. An-Nihaayah karya Ibnul Atsir (IV/449).
[2]. Maksudnya, akhirkanlah keduanya. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (XVI/123)
[3]. Shahih Muslim (IV/1987) Kitabul Birr was Sihilah wal Aadaab.
[4]. Shahih Muslim (IV/1988) Kitabul Birr was Shilah wal Aadaab.
[5]. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmudzi dalam Sunannya (III/121) Kitabush Shaum, an-Nasa-i dalam Sunannya (IV/202) Kitaabush Shaum, Ibnu Majah dalam Sunannya (I/553) Kitaabush Shiyaam dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (VI/106).
[6]. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (III/122) Kitaabus Shaum bab Maa Jaa’a fii Shaum Yaumil Itsnain wal Khamiis dari Abu Hura-irah. At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini Hasan Gharib.” Namun menurut Abu Dawud hadits ini memiliki syahid (penguat). Lihat Sunan Abi Dawud Ma’a Badzlil Majhuud (XI/304) Kitabush Shaum bab Shaum Yaumil Itsnain wal Khamiis.
[7]. Ini merupakan bagian dari hadits Abu Qatadah al-Anshari Radhiyallahu anhu yang diriwa-yatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/819) Kitaabush Shiyaam.
[8]. Lihat Subulus Salaam, karya ash-Shan’ani (II/330).
[9]. Shahih al-Bukhari (IV/6) Kitaabul Jihad was Sair.

 

Posted on Leave a comment

Rahasia pengobatan oleh ustadz Danu Rahasia Qolbu ustadz danu

Catatan Ringan. Siraman Qolbu Bengkel Hati, acara TPI (sekarang MNCTV) setiap subuh Ahad dan Senin. Entah sudah berapa lama saya suka menonton acara ini. Pada awalnya saya agak “curiga”, kok Ustadz Danu (Ustadz Dhanu) bisa tahu hampir semua jenis penyakit yang ditanyakan para jamaah tersebut disebabkan oleh perilaku atau akhlak seseorang sebelumnya, jangan-jangan dukun berkedok ulama. Setelah beberapa kali mengikuti barulah saya mengerti ternyata beliau  yang bernama lengkap Ir. Djoko Ismanu Herlambang mendapatkan pengetahuan tersebut karena bertahun-tahun mengadakan penelitian hubungan antara penyakit dengan akhlak seseorang. Kata beliau segala musibah yang kita alami sekarang adalah hasil dari perbuatan kita sebelumnya (lihat: Q.S. Asy Syuura 30-31), dan apa yang dialami oleh anak yang belum akhil baliq itu adalah akibat dari perbuatan orang tuanya sebelumnya.
Banyak diantara jamaah yang menceritakan kesembuhan penyakitnya setelah mengikuti nasehat beliau, baik yang langsung mengikuti kegiatan di Masjid Annida tersebut maupun lewat siaran TV. Ternyata untuk menjadi sehat itu tidak mahal. Akhirnya selain rajin nonton acara tersebut saya juga rajin mencatat hal-hal yang saya anggap penting tersebut. Beberapa yang masih saya ingat adalah sebagai berikut:

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Posted on Leave a comment

KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN

KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN
 
Oleh : Nasrie K.
 
 
Manusia diciptakan Allah SWT dengan sebaik-baiknya, melebihi makhluk yang telah diciptakan sebelumnya. Disamping manusia memiliki kekurangan dan kelemahan yang tidak dapat luput dari salah dan dosa, manusia juga di bekali pola-pola kepribadian, dalam bahasa lainnya manusia memiliki karakteristik (tingkah laku) tertentu yang mungkin timbul darinya dalam situasi-situasi tertentu.
Al-Quran sebagai kitab suci umat muslim di dunia, merupakan mukjizat yang sangat luar biasa, dimana di dalamnya terdapat hal-hal yang terkait dengan apa yang ada di dunia beserta isinya dan apa yang ada di akhirat. Kemukjizatan Al-Quran yang telah tertulis dari sekian abad silam, kini di tengah-tengah kemajuan IPTEK, isi dan pesan yang terdapat dalam Al-Quran tersebut dapat terbukti secara empiris dan ilmiah. Fenomena inilah yang membuktikan kebenaran Al-Quran sebagai kitab suci terdahsyat di alam dunia ini, bukan hanya kaum muslim saja yang mengakui ini, bahkan ilmuan dan peneliti non muslim pun turut mengakui kebenaran Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an klasifikasi manusia, berdasarkan akidahnya terbagi tiga pola :
  1. Orang-orang yang beriman
  2. Orang-orang yang kafir
  3. Orang-orang yang munafik
Masing-masing dari ketiga pola ini mempunyai sifat utama umum yang membedakannya dari pola yang lain. Klasifikasi manusia berdasarkan Al-Qur’an yakni Aqidah. Aqidah ini seiring dengan dengan tujuan-tujuan al-Qur’an dalam kedudukannya sebagai kitab aqidah dan petunjuk. Selain itu, klasifikasi ini juga mengemukakan tentang pentingnya aqidah dalam membentuk kepribadian manusia, membentuk sifat-sifatnya yang khas, dan mengarahkan tingkah lakunya kesuatu arah tertentu. Klasifikasi ini juga mengisyaratkan bahwa faktor utama dalam menilai kepribadian, menurut al-qur’an ialah Aqidah.
Dari ketiga pola kepribadian ini diurakan Al-Qur’an dengan sifat-sifat khusus yang menjadi ciri masing-masing dan yang membedakan anatara satu dangan yang lain. Berikut ini akan dijelaskan sifat-sifat terpenting yang menjadi ciri utama dari masing-masing ketiga pola kepribadian manusia dalam Al-Qur’an tersebut.
  • 1. Orang-orang Beriman
Orang-orang beriman banyak disebut Allah dalam banyak ayat dalam sebagian besar surah Al-Qur’an. Tingkah laku mereka dalam berbagai bidang kehidupan banyak diuraikan dalam aqidah, ibadah, moral, hubungan dengan orang lain, hubungan kekeluargaan, cinta kepada ilmu pengetahuan, kehidupan praktis, upaya untuk mencari rezki, dan sifat-sifat fisiknya.
Dalam kepribadian seorang Mukmin, sifat-sifat tersebut tidaklah lepas antara satu sama lainnya, saling berinteraksi dan saling menyempurnakan. Orang-orang beriman tidaklah semuanya berada pada pringkat ketakwaan yang sama, tapi berbeda-beda. Sebagaimana di jelaskan dalam QS. Faathir [35]: 32.
Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. QS. Faathir [35]: 3”.
Dalam tafsir al-jalalain diuraikan, bahwa ”orang yang menganiaya dirinya sendiri” ialah orang yang terbatas dalam beramal kebaikan. Sedang orang ”yang pertengahan ” ialah orang yang sebagian besar waktunya untuk berbuat kebaikan. Sementara ”orang yang cepat berbuat kebaikan” ialah orang yang disamping beramal kebaikan juga mengajarkan dan mengajak orang lain untuk beramal kebaikan.
  • 2.Orang-orang yang kafir
Orang-orang kafir juga banyak dikemukakan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Mereka diberi atribut dengan berbagai sifat utama yang menjadi sosok mereka yang tidak beriman kepada akidah tauhid, kepada para Rasul, kitab-kitab yang diturunkan, hari akhir, kebangkitan kembali, perhitungan, surga, dan neraka. Mereka itu adalah pribadi-pribadi yang statis pemikirannya dan tidak mampu memahami realitas tauhid yang diserukan Islam. Oleh karena itu Al-Quran melukiskan mereka sebagai berikut :
Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah [2.]: 7)
  • 3. Orang-orang yang munafik
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (An Nisaa'[4]: 145)
Sifat-sifat utama kepribadian orang munafik dalam Al-Quran dapat digolongkan sebagai berikut:
  • Sifat yang berkenaan dengan akidah: mereka tidak mempunyai sikap yang tegas terhadap akidah tauhid.
  • Sifat-sifat yang berkenaan dengan berbagai ibadah: mereka melaksanakan ibadah hanya karena riya, dan dalam mendirikan sholat mereka bermalas-malasan.
  • Sifat-sifat yang berhubungan dengan sosial: Mereka menyuruh kemungkaran dan mencegah kebajikan.
  • Sifat-sifat moral: Suka mengingkari janji, pembohong, kikir, hedonis dan oportunis, dan suka menuruti hawa nafsu.
  • Sifat-sifat emosional: Mereka membenci dan dengki terhadap kaum Muslimin dan takut terhadap kematian.
  • Sifat-sifat intelektual: Mereka ini peragu dan tidak mampu mengambil suatu keputusan dan ketetapan terhadap akidah tauhid, karena itu Al-Qur’an melukiskan mereka sebagai ”orang-orang yang tertutup hatinya”.
Dari beberapa ciri diatas manakah kepribadian kita sesungguhnya, hanya diri anda sendiri dan Tuhan yang tahu jawabannya. Dari beberapa ciri-ciri kepribadian di atas, merupakan sebagai introspeksi diri (muhasabah) untuk menjadi muslim yang memiliki kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya.
Posted on Leave a comment

Belajar Menjadi Pribadi Muslim Yang Ideal

Belajar Menjadi Pribadi Muslim Yang Ideal

Oleh : Farid Naya

 

Judul di atas tidak hanya merupakan dambaan satu-dua muslim, melainkan menjadi dambaan hidup setiap orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Namun persoalannya adalah bagaimana kiat-kiat untuk mewujudkan impian maupun dambaan hidup di atas? Melalui tulisan inilah penulis mencoba menjelaskannya.

Dalam al-Qur’an, banyak sekali dijumpai sekumpulan ayat-ayat yang memberikan petunjuk kepada kita tentang kepribadian muslim yang harus diwujudkan dalam pribadi kita masing-masing selaku hamba Allah Yang Maha Pengasih. Salah satu di antara ayat-ayat itu adalah surat al-Furqaan ayat 63-68. Kepribadian muslim ideal yang diterangkan dalam surat ini adalah sifat yang luhur dan mulia, sehingga Allah sendiri menyebut orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dengan sebutan “Ibaadur Rahman” (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih). Adapun Redaksi ayat 63-68 dari surat al-Furqan adalah sebagai berikut:

وعباد الرحمان الذين يمشون على الاْرض هونا واذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما واللذ ين يبيتون لربهم سجدا وقياما و الذ ين يقولون ربنا اصرف عنا عذاب جهنم ان عذابها كان غراما انها ساءت مستقرا ومقاما والذين اذا اْنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما والذين لا يدعون مع الله الها اخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله الا بالحق ولا يزنون ومن يفعل ذالك يلق اْثاما يضاعف له العذاب يوم القيامة ويخلد فيه مهانا .

Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. Dan orang-orang yang yang di waktu malam bersujud dan berdiri karena Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata (berdo’a) Ya Tuhan Kami, jauhkan adzab jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian itu. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya.” (QS. Al-Furqan: 63-68).

Firman Allah di atas secara jelas memberikan kita pelajaran yang sangat penting, guna menghiasi diri dan pribadi kita dengan sifat-sifat, sikap dan perilaku yang menunjukan tata kesopanan dan keluhuran budi pekerti atau akhlak yang mulia sebagai hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih atau Ibaadur Rahmaan. Adapun ciri yang pertama dari Ibaadur Rahmaan adalah mereka yang apabila berjalan dan menampilkan diri di tengah-tengah masyarakat selalu berpenampilan yang simpatik, tidak sombong dan angkuh. Merek berjlan dengan penuh tawadhu’ dan dengan langkah yang tertur serta tidak dibuat-buat yang dapat menimbulkan kesan menarik perhatian orang lain. Ciri atau sikap yang pertama ini sejalan dengan firman Allah yang lain, yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang bersifat sombong lagi membangga-banggakan diri. Sebagaimana firman Allah berikut ini:

ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الاْرض مرحا ان الله لا يحب كل مختال فخور واقصد في مشيك و اغضض من صوتك ان اْنكر الاْصوات لصوت الحمير

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu di dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman: 18-19).

Dalam surat al-Israa’ ayat 37 juga disebut sebagai berikut:

ولا تمش في الاْرض مرحا انك لن تخرق الاْرض ولن تبلغ الجبال طولا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Kedua, adalah tata cara kesopanan dalam berbicara dan berkomunkasi dengan orang lain, terutama ketika kita berhadapan langsung dengan orang-orang yang kurang ilmu pendidikannya atau pun lebih rendah derajatnya dari kita. Dalam hal ini hendaknya kita menunjukan adab atau etika yang baik dan terpuji. Dengan kata lain bahwa bagaimana kita menghadapi orang lain dengan tampilan wajah yang cerah dan simpatik serta membalas ucapannya dengan kata-kata yang mengandung kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan. Dengan demikian akan menimbulkan kesan pada lawan bicara kita bahwa dirinya diperlakukan secara terhormat dan sekaligus membuat kita dihormati dan menjadi ketauladanan baginya. Sikap atau cara bergaul seperti ini telah diajarkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya, yaitu:

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk, dan pergaulilah manusia (orang lain) dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Selain itu, dalam firman Allah yang lain juga disebutkan:

ولا تستوى الحسنة و لا السيئة ادفع با لتي هي اْحسن فاءذا الذي بينك وبينه عداوة كاْنه ولي حميم وما يلقاها الا الذين صبروا وما يلقاها الا ذو حظ عظيم .

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan di antara dia ada permusushan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Sifat-sifat yang baik itu) tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. (41) Fushilat : 34-35).

Sedangkan ciri yang ketiga, selalu mempergunakan kesempatan di waktu malam harinya untuk melakukan taqarrub Ilallah dengan melakukan sholat tahajjud dan sholat witir serta melakukan dzikir dan muhasabah. Cara ini dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memohon ampunan dan kekuatan serta keselamatan dunia dan akhirat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang muslim itu hendaknya pada siang hari melakukan tugas-tugas kehidupannya dan berjuang untuk kalimat Allah. Adapun pada malam hari hendaknya mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Keempat, senantiasa mengingat akhirat atau hari hisab.Yaitu suatu hari di mana semu amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik akan diberi pahala yang berlipat ganda, sedangkan yang buruk akan diberi ganjaran dan siksa yang pedih lagi menghinakan. Karena itu, seorang muslim tidak boleh lalai dalam memohon kepada Allah agar dijauhkan dari adzab api neraka jahannam. Berdo’a kepada Allah pada hakikatnya adalah ibadah. Karena itu do’a merupakan amalan yang wajib dilakukan setiap muslim. Seseorang yang enggan dan tidak pernah berdo’a kepada Allah niscaya tidak akan memperoleh ridha dan ampunan Allah swt. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:

وقال ربكم ادعوني اْستجب لكم ان الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين .

Dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS. Al-Mu’min: 60).

Ciri yang kelima, membelanjakan rezeki yang dianugerahkan Allah dengan melakukan perbelanjaan secara hemat dan sederhana, yakni tidak boros dan tidak kikir atau bakhil, melainkan senantiasa membelanjakan harta di tengah-tengah yang demikian itu. Sikap hidup sederhana ini adalah sifat yang diridhai Allah. Sedangkan kebalikannya, perilaku hidup yang berlebih-lebihan itu sangat dimurkai Allah. Bahkan orang yang melakukannya disebut sebagai saudara setan. Hal ini terlihat dari penjelasan ayat berikut ini:

وات ذالقربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا ان لمبذرين كانوا اخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang orang yang dalam perjalanan , dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya setan, dan adalah setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Israa’: 26-27).

Namun sebaliknya, Allah pun melarang kita untuk berlaku kikir dan enggan mengeluarkan harta pada saat-saat dibutuhkan, seperti untuk keperluan belanja dan kebutuhan sehari-hari, untuk kepentingan umat atau masyarakat umum, untuk menanggulangi bahaya kelaparan dan sebagainya. Di lain itu, Allah swt mewajibkan kita mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah, yang bertujuan agar harta itu dapat difungsikan sebagiannya untuk keperluan Fi Sabilillah dan untuk kepentingan masyarakat.

Keenam adalah selalu menjaga dan memelihara ibadahnya, semata-mata hanya karena Allah, bukan pada selainnya. Selain itu, seorang muslim tidak melakukan penganiayaan apalagi menghilangkan nyawa orang lain yang tidak dibenar secara hukum, demikian juga tidak melakukan perbuatan asusila. Mengingat semua perbuatan-perbuatan itu adalah termasuk dosa besar yang sudah barang tentu ada balasannya berupa sikaan (adzab) yang berlipat ganda di akhirat kelak.

Demikianlah penjelasan kesembilan sifat Ibaadur Rahman (Hamba-hamba AllahYang Maha Pengasih). Akhirnya uraian singkat ini mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua, khususnya dalam menjadikan diri kita semua sebagai pribadi muslim yang ideal, yang tidak hanya memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi diri kita pribadi, melainkan juga keluarga maupun lingkungan yang lebih luas, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Wallahu A’lam bishsshowaab

Posted on Leave a comment

Update Aplikasi Belanja online termurah ke versi 2.2

Halo Sobat ALBA,

Kami telah mengUpdate aplikasi android versi 2.2 bisa share produk via Whatsapp jika mau ditawarkan ke teman atau kerabat Sobat ALBA,

 

klik update aplikasi disini:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTokoAlba_8434629

 

jika sebagai member tentunya anda akan mendapatkan bonus 5% dari tiap penjualan yg terjadi dari link affiliasi anda, inilah yg kami katakan lebih mudah dari pada dropship.

akan dapat 3 keuntungan:
1.untung 5% dari penjualan produk, jika terjadi penjualan dari link affiliasi anda
2.untung 5% dari upgrade member ke premium
3.untung 5% dari produk terpisah di member area

cara promosi via medsos seperti video dibawah ini:

 

https://youtu.be/zRHwXJFLC08

 

Salam Sukses

Admin Tokoalba.com

Posted on Leave a comment

Info perubahan link web affiliasi

Dear Mitra Sobat tokoalba.com

mulai hari ini kami melaporkan bawahnya link affiliasi yg sebelumnya menggunakan subdomain http://nama.tokoalba.com kini telah berganti ke https://tokoalba.com/?reg=nama

karena masih byk error di data pengiriman tidak muncul jasa biaya ongkir dan lain-lain masih belum efektif, kami mohon maaf atas ketidaknyamannya. silahkan cek link di https://tokoalba.com/akun-saya di menu memberarea

Demikian pemberitahuan ini, Salam sukses. semoga berkah

Ttd

Admin tokoalba.com

Posted on Leave a comment

Free ongkir di tokoalba toko belanja online termurah

 

Free ongkir 12.000

Halo Sobat alba ada free ongkir, subsidi Gratis ongkir 12.000 cocok untuk anda yang suka belanja online area surabaya,gresik,lamongan,bojonegoro otomatis free ongkir, Promo ini berlaku hingga tanggal 31 Januari 2019, so jangan ketinggalan ya sobat Alba. selamat berbelanja kembali.

Gunakan kode Kupon: gratis12

Gamis katun jepang motif bunga